“2 Hal yang Gue Harap Gue Gak Akan Pernah Nyicil”

“2 Hal yang Gue Harap Gue Gak Akan Pernah Nyicil”

Mungkin beberapa dari pembaca blog ini yang follow Twitter saya, pernah melihat posting ini.

Kaget juga, ternyata twit ini sampai di-retweet lebih dari 500 kali! Gue sedikit merasa tanggung kalau tidak menjelaskan lebih detil lagi, pandangan gue mengenai hal ini. Yha, karena Netizen kan kritis, katanya..

Gadget

Gadget adalah hal yang terlintas pertama kali di dalam pikiran. Kenapa? Jelas karena punya tempat khusus di kepala gue. Begitu cintanya dengan gadget, banyak sekali duit, memang harus diakui, terpakai untuk kebutuhan ini. Gadget yang dibeli, di-review, lalu dijual, hingga gadget yang dibeli, pakai, dan diterlantarkan karena merasa sakit hati dengan harga jualnya, semua masih membekas. Iya, kita hidup di jaman di mana orang lebih pilih ketinggalan dompet daripada smartphone. Jaman di mana pengguna internet sudah lebih banyak di gadget seperti smartphone, laptop dan tablet daripada desktop PC. Jaman di mana banyak kegiatan penting seperti bekerja, bertransaksi, berkomunikasi hingga mencari jodoh pun semua semakin butuh bantuan internet dan gadget-nya.

Tunggu, apa ini artinya gadget sudah masuk ke kategori kebutuhan primer?

Bagi gue pribadi, gadget, internet dan teknologi ada di kategori kebutuhan sekunder… Tapi sekunder yang paling atas! Yaa, anggap saja di antara kebutuhan primer, gue menempatkan pangan di primer paling atas. Jadi, karena sekunder, kita bisa kok hidup tanpa gadget. Miserable mungkin, tapi hidup.

Melihat perkembangan gadget sekarang, smartphone terutama, ada yang bilang “makin lama makin mahal” tapi ada juga yang bilang “wah makin banyak pilihan yang murah nih!”. Dua-duanya benar. Kalau kita melihat harga smartphone termahal (dengan tidak menganggap smartphone mewah seperti Vertu), iPhone X 256GB sudah lebih mahal dari kebanyakan laptop!. Tapi, kalau kita melihat di sisi lain, Redmi 5A dijual dengan harga di bawah 1 juta, hadir dengan spesifikasi yang memang mumpuni. Mari kita kembali lagi ke kebutuhan kita, dikorelasikan dengan kemampuan kita masing-masing yang memang berbeda.

Gue kok ragu ya ada yang bener-bener butuh iPhone X kecuali memang coder/programmer yang kerja di startup dan membutuhkan untuk mendesign aplikasinya. Itu pun, mungkin baiknya kalau disediakan perusahaan. Kondisi lain seseorang butuh iPhone X adalah bila merasa status sosial itu penting dan bisa terbantu dengan iPhone X, by all means. iPhone X mungkin lebih ke wants, rather than needs. Which is fine btw, if you can afford it.

Sedangkan tanpa mengagungkan Redmi 5A sendirian, banyak sekali smartphone entry level (di bawah 2 juta), atau mid level (2 hingga 6 juta), yang memang does the job well. Sebut saja Moto C Plus, Nokia 2, Samsung J2 Pro, atau mid level di Moto G5S Plus, Oppo A83, MiA1, the list goes on. Mereka semua cukup untuk melakukan aktifitas seperti berkomunikasi, media sosial hingga mendokumentasi (foto/video).

Selain nyicil, cara mendapatkan smartphone juga bisa dengan mengikat kontrak dengan operator yang menawarkan harga smartphone sudah termasuk dalam pulsa. Agak berbeda dengan nyicil, yang ini kita harus perkirakan dulu pemakaian kita per bulan berapa, lalu disesuaikan paketnya. Cara 1 lagi, beli smartphone bekas. Bukan ide buruk.

Liburan

Perlu diketahui bahwa spending untuk hotel & pariwisata memang meningkat pesat melebihi consumer goods lainnya di 2017 kemarin. Begitu banyak millennials yang memilih berinvestasi di experience dibanding generasi sebelumnya yang lebih memilih property. Liburan, baik domestik atau internasional, menjadi kebutuhan yang lumayan penting tampaknya di mata millennials. Gue di sini bukan mau memperdebatkan hal itu, tapi bagaimana kita membiayai investasi model baru yang satu ini. Let me try to explain.

Investasi seperti properti, saat ini pun memang tidak se-liquid dulu. 2 tahun belakangan memang tidak mudah menjual properti. Jadi belum tentu yang berkata properti masih lebih baik daripada investasi liburan itu,.. benar. Ini semua tergantung bagaimana kita memanfaatkan investasi kita. Liburan, bisa menjadi investasi yang benar menguntungkan bila kita tahu cara memperlakukannya. Contoh: liburan bisa menjadi bahan pemasukan di mana kalau memang kita sudah menjadi travel blogger/vlogger professional (baca: dibayar). Atau, liburan bisa menjadi bahan inspirasi untuk karya kita bila kita seniman, misalnya. Masalahnya, bila memang dijadikan “operational cost” untuk bisnis dan berencana untuk menyicil, do we really keep track on it?

Gue liburan cenderung untuk dinikmati. Dan karena gue orangnya gak begitu disiplin juga, akibatnya suka over budget. Malah kadang gak dibuat sama sekali budget-nya. Gue gak bisa tuh, keeping expenditure while on holiday. Ujung-ujungnya splash juga. Jangan ditiru ya.

Namun kalau kalian memang liburan untuk investasi, bisa keep track on expenses, dan bisa menjustifikasi adanya pemasukan dari liburan tersebut, serta memasukannya ke tracking tadi, sah-sah aja dicicil. Karena itu bisa dikategorikan memang sebagai “bisnis”. Namun kalau liburan merupakan senang-senang, melepas stress atau demi Instagram feed yang aesthetic, mungkin baiknya seperti gadget, disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan ekonomi masing-masing.

Jadiii….

Jadi ya, begitulah pendapat saya tentang 2 hal yang saya (semoga) tidak akan pernah menyicil. Antara bayar penuh, atau ditunda dulu (atau bahkan dibatalkan) hingga saya mampu. Masih banyak hal lain mungkin yang sebenarnya saya hindari untuk dicicil, tapi 2 hal itu menjadi hal yang paling mungkin relate ke banyak pembaca blog ini. Semoga ya, kita jadi lebih bisa menyesuaikan hubungan kebutuhan dan kemampuan ekonomi kita masing-masing. Paling serem sih memang melihat godaan promo kartu kredit untuk nyicil liburan, apalagi nyicil gadget liburan untuk liburan yang juga dicicil. Cilaka!

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments