Berhati-hati dan Berempati dalam Chatting

Berhati-hati dan Berempati dalam Chatting

Suka atau tidak, kita memasuki jaman di mana chatting mulai pelan-pelan naik peringkat dalam tabel kita dalam berkomunikasi. Dulu, di tabel tersebut, dalam berkomunikasi, bertatap muka, entah dengan ditemani makan siang, makan malam atau segelas kopi adalah peringkat pertama. Mungkin di peringkat ke-2 ada berbicara di telefon. Tapi sekarang, chatting!

Chatting itu nyaman, mudah, bisa berkirim multimedia (gambar, suara, video hingga dokumen), terdokumentasi, hingga yang terbaik adalah lebih ekonomis. Begitu banyak keuntungan dari chatting, namun di manakah batas etika yang otomatis terlupakan karena kemudahan tersebut?

Screen Capture

Salah satu kelebihan chatting yaitu merekam segala pembicaraan kita, selama kita mau (Baca: jika kita tidak pernah menghapusnya). Di saat kita lupa, kita tinggal mencari kata kunci dari pembicaraan kita waktu itu, mudah sekali.

Namun, di balik itu, karena begitu mudahnya menghadirkan rekaman pembicaraan ini, berarti… setiap yang salah disampaikan, tidak akan terlewat dan terlupakan.

Contoh: Membicarakan buruknya orang lain, gosip, atau ghibah. Saya pun harus mengakuinya. Pernah, bahkan mungkin tidak jarang saya lakukan. Dan itu semua, terekam di 2 tempat penyimpanan. Saya, dan lawan bicara saya. Lebih parah lagi kalau dibicarakan di grup, bukan? Terekam di lebih dari 2 tempat.

Mungkin yang kita bicarakan sekarang, tidak sensitif. Tapi di lain waktu, bisa jadi. Di saat itu, seseorang men-screen capture-nya, dan menjadikannya senjata melawan kita.

Etikanya sebenarnya sederhana, menghargai kepercayaan yang diberikan oleh orang tersebut dan tidak pernah membocorkannya ke orang lain. Dulu, dalam tatap muka, bukti pembicaraan tidak mudah didapatkan. Dulu, jarang sekali kita secara sengaja merekam pembicaraan kita dalam bertatap muka. Sedangkan dalam chatting, semua terekam. Resikonya besar. Bisakah etika itu tetap berjalan dalam chatting layaknya tatap muka?

Hoax

Tahukah kamu bahwa pemilu, pilkada kemarin, hoax beredar lebih cepat melalui grup WhatsApp daripada media sosial seperti Twitter, Instagram dan lainnya? Kenapa? Menurut saya, karena di grup WhatsApp, terasa lebih personal. Seolah-olah “Eh, gue dapet bocoran nih, tapi rahasia ya, belom ada di media. Jadi ginii… “.

Selayaknya manusia merasa mendapat prioritas untuk tahu suatu informasi yang top secret secara privilege, tentu tingkat kemudahannya dalam percaya berita tersebut akan naik. Selain itu, perasaan yang didapat dalam membaca sesuatu yang tertulis, entah dari manapun asalnya, terasa lebih bisa dipercaya daripada mendengarnya. Semacam ada hitam di atas putihnya.

Hoax menjadi salah satu sebab pecahnya grup keluarga di pemilu, pilkada kemarin. Dalam grup keluarga, kadang ada 2 generasi, bahkan mungkin 3. Generasi yang lebih mudah percaya karena alasan di atas, generasi yang tidak mudah percaya dan selalu mengkonfirmasi kembali atau mencari sumber solidnya, atau generasi yang sudah tidak percaya bahwa media (tempat konfirmasi) dan berpikir media dikuasai pemerintah.

Dulu, kita tidak akan mudah mempercayai hoax bila dalam suatu kumpul-kumpul di warung kopi, 1 orang datang tanpa bukti tertulis, menceritakan ngalor-ngidul sebuah teori konspirasi, bukan? Lagi-lagi, kita terbawa ke kenyamanan bahwa yang ada di layar smartphone itu, selalu benar.

Menyebarkan Foto / Video

Yang sering terjadi juga, adalah penyebaran foto di ruang chatting yang, well, belum tentu bisa diterima pihak lain. Mulai dari foto korban bencana atau musibah yang sangat vulgar, hingga menyebarkan foto yang berbau NSFW (Not Safe For Work), semua harusnya ada etikanya. Bahkan, foto selfie, wefie atau candid yang diambil bareng pun, untuk disebarkan, baik ke grup WhatsApp sendiri hingga ke media sosial pun, sebaiknya sih minta izin terlebih dahulu.

Kadang kita terlena iseng, melihat teman, tidur dengan mulutnya terbuka, memfotonya, lalu menyebarkannya di grup untuk guyon (Baca: mempermalukannya). Bisa saja, dan memang haknya, korban sensitif dan marah akan hal ini.

Kadang kita terlalu nafsu untuk menyebarkan video terorisme yang merenggut banyak nyawa, terlihat korban bertebaran dan menyebarkannya hanya untuk dicap paling informatif, paling cepat tahu. Pernahkah kita berpikir bahwa seandainya korban yang ada di video tersebut adalah ayah, ibu, suami, istri, anak kita sendiri?

Mungkin lucu saat seorang suami berkata “Woy, jangan sebar foto cewek telanjang di grup dong, gue lagi ama istri & anak gue nih!”. Tapi apakah masih lucu saat kesalahpahaman sudah benar terjadi di rumah tangga mereka hanya karena masalah foto?

Mungkin sepintas seru saat ada yang menulis di grup, “Gila, kecelakaan tadi pagi parah banget, orangnya kelempar dari motor, patah tulang! Keliatan nih, gue ada videonya, gue kirim ya!” Pernahkah berpikir kemungkingannya bila yang patah tulang itu adalah anak kita yang tadi pagi pamit mau kerja, belum ada kabar, dan sebagai orang tua harus mengetahui kabarnya dari video yang viral di grup whatsapp, yang notabenenya sudah menjadi seru-seruan ratusan, mungkin ribuan orang asing, melainkan mengetahuinya pertama kali dari yang berwenang?

Phising / Spam / Scam

Phising adalah kegiatan mengumpulkan data sensitif seperti login dan password kita untuk digunakan untuk kepentingan tidak baik. Spam adalah pada dasarnya beriklan namun dengan cara atau etika yang tidak layak dan cenderung hoax. Scam adalah penipuan.

Jaman sekarang, phising sudah mulai menyebar melalui whatsapp group. Entah berawal dari mana, tapi tiba-tiba ada berita bahwa suatu airline memberikan tiket gratis untuk yang mengisi link yang diberikan dan menyebarkannya ke beberapa kontaknya. Tentunya promo itu palsu. Mending kalau itu cuma mau mengumpulkan database dan menjualnya, parahnya adalah detail yang dipakai digunakan untuk meretas ke situs lain dan merugikan kita. Begitu pula Scam & Spam, Whatsapp sudah menjadi media penyebaran.

Ada jamannya ini adalah semacam SMS yang datang ke inbox kita menyatakan kita pemenang mobil mewah dan harus membayar pajaknya terlebih dahulu ke bla bla bla.. Kebanyakan dari kita mungkin sudah kebal dan tidak percaya akan hal ini. Tapi, percaya atau tidak, saya kenal 1-2 orang yang pernah tertipu dan benar kehilangan uang. Ini adalah Scam.

Lagi-lagi, rasa di mana hitam di atas putih di dalam layar, dengan bahasa yang benar dan terlihat resmi, dianggap… resmi seada-adanya. Kita terlalu nyaman dan langsung percaya.

Kredit

Memang seru dan mudah, menemukan sesuatu yang lucu di internet dan menyebarkannya ke grup whatsapp. Sepertinya itu bukan masalah, lalu?

Pernahkah berpikir bahwa comedian membuat bit-nya itu perlu research dan pemikiran serius? Atau susahnya mengedit video, membuat lagu, mengambil foto? Ini bisa jadi kasus pelanggaran hak cipta.

Atau, resiko lainnya, pernahkah berpikir bahwa sesuatu yang lucu di banyak orang, belum tentu lucu di semua orang? Oleh karena itu, asal muasal suatu karya harus jelas, dan kredit untuk pembuatnya, penting, sehingga penghargaan atau pertanggung jawaban atas karyanya, bisa diberikan.

Jadi..

Kenyamanan dalam chatting ini tampaknya bisa berbalik menaruh kita dalam posisi yang berbahaya kalau kita tidak paham “aturan main”-nya. Ini mungkin beberapa tips yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan kita:

Double, Triple Confirmation

Entah itu hoax tentang bencana, promosi, atau bahkan menyatakan bahwa whatsapp akan tutup, baiknya dikonfirmasi lagi, kalau bisa 2 kali. Lihat siapa pengirimnya. Kalau itu melalui email, lihat domainnya. Kalau itu di grup Whatsapp, lihat sumber beritanya dan domain dari sumber berita tersebut. Lakukan 2 kali, cari sumber berita ke 2, bahkan kalau bisa ke 3.

Ini juga berlaku dengan memberikan password atau data personal lainnya di sebuah situs hasil dari link yang diberikan melalui chatting. Pastikan domain dari situs tersebut resmi, biasanya ada tanda centang atau gembok di sebelah URL dan dimulai dengan https.

Waspada terhadap segala sesuatu yang “too much (either good or bad) to be true”. Bila ragu, bertanya.

Black & White is not Black & White

Hitam di atas putih di layar, berbeda dengan hitam di atas putih dalam kertas. Kalau pernah belajar photoshop dan tahu apa yang bisa photoshop lakukan, mungkin akan lebih mudah dimengerti. Mulai dari mengedit bukti pembayaran untuk tujuan penipuan hingga mengedit gambar hanya untuk membuat meme, Photoshop bisa. Bahkan screen capture pun bisa dimodifikasi, lho. Hitam di atas putih di layar, belum tentu sama dengan hitam di atas putih di atas kertas.

Jaman now, kontrak secara digital memang sudah bisa dilakukan. Tapi, coba baca buku “Cyber Law” oleh Dr. Sukarmi yang menyatakan ciri-cirinya dan membedakan yang merupakan indikasi phising, pham & scam. Banyak buku mengenai ini, terlalu panjang untuk dibahas di sini.

Emoji tidak sama dengan Intonasi

Beberapa hal, memang bukan untuk ditulis dalam bentuk ketikan di layar. Pemecatan dari suatu jabatan, perceraian, mungkin adalah contoh jelas. Tapi pernahkah berada dalam situasi di mana kata “OK” di layar bisa berarti banyak? “Kenapa nih? Marah?”, “Gitu amat, lagi buru2 banget?”. Atau pernahkah kita menggunakan Emoji tertawa terbahak-bahak namun saat menulisnya muka kita datar? Emoji tidak sama dengan intonasi. Jangan juga artikan apa yang dibaca di chat, 100% sama dengan apa yang dikatakan secara langsung.

Pesan dari saya melalui blog ini, mari kita kembalikan tatap muka menjadi peringkat pertama dalam tabel komunikasi. Mari kita lebih banyak gunakan mata untuk menatap mata lawan bicara, kuping untuk mendengarkan suara bicara secara langsung. Mari kita balik layar smartphone sebentar, menghadap meja, nikmati kopi atau hidangan yang ada di depan kita sambil ngobrol. Mari kita mute beberapa grup Whatsapp yang memang tidak terlalu penting. Mari kita biarkan beberapa pesan di chatting tidak terbaca. Setidaknya untuk beberapa saat. Mari kita bersama-sama sepakat kalau, “Kalau penting, telpon!”

Saya yakin masih banyak yang bisa dilakukan untuk lebih berhati-hati dan lebih berempati dalam dunia chatting. Oleh karena itu, silakan ditambahkan. Semoga berguna.

PS: Oh iya, tulisan ini adalah hasil ngobrol dengan Fellexandro Ruby selama di Bangkok. Sebagian adalah hasil pemikirannya. Cek websitenya dan follow @fellexandro di Instagram

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *