“Kalo Gak Mau Fotonya Dicuri, Jangan Upload”

“Kalo Gak Mau Fotonya Dicuri, Jangan Upload”

Pernyataan di atas tidak salah, ada benarnya, bahkan. Tapi, kalau berdasarkan logika itu, berarti benar juga bila kita berpikir:

“Kalau gak mau jatuh, jangan lari.”

“Kalau gak mau motornya dicuri, jangan naik motor.”

“Kalau gak mau kecelakaan naik pesawat terbang, jangan naik pesawat terbang.”

“Kalau gak mau mati, jangan hidup.”

Walaupun tidak sepenuhnya sama persis, tapi ada persamaan dari pernyataan-pernyataan di atas. Bahwa semua yang kita lakukan, ada resikonya.

Sebelum mendebatnya atau menjauh dari tulisan ini, izinkan saya menjelaskan apa yang terjadi..

Sekitar seminggu lalu, istri saya, Nucha (@nuchabachri), mendapat mention di akun Instagramnya, yang mengarah pada foto dirinya yang digunakan tanpa izin. Foto tersebut adalah fotonya di saat USG di ruang dokter, yang pertama kali menunjukkan kami berhasil hamil anak pertama kami, Ayra, sekitar 2 tahun lalu. Nucha menemukan foto tersebut dipakai tanpa izin, utnuk berjualan produk/konsultasi kehamilan yang tidak pernah kami ketahui apalagi gunakan sebelumnya. Menariknya, ini adalah kejadian kedua kalinya untuk kami, oleh akun yang berbeda, namun tema yang sama, “Terapi Hamil Holistik”

Foto kami yang dicuri.

Foto sebenarnya yang ada di akun saya.

Mengetahui berita tersebut, saya, sebagai Ayah & Suami, merasa perlu bertindak. Yang saya lakukan pertama kali adalah menaruh komentar pada foto tersebut, memintanya baik-baik untuk diturunkan. Setelah berkonsultasi dengan beberapa teman, saya yakin posisi saya benar di sini, merujuk pada hukum yang berlaku, yaitu tentang hak cipta. Posisinya adalah foto yang digunakan adalah untuk keperluan komersil & tidak mendapat persetujuan dari subyek yang ada di foto.

Mengetahui itu, saya melanjutkan dengan menghubungi secara langsung nomor yang tertera di profil instagramnya, sambil berpikiran mungkin akun tersebut begitu terkenal sehingga komen saya dan beberapa teman di posting tersebut, tenggelam di notifikasi. Dijawab, katanya akan diturunkan,… begitu dapat sinyal, menarik.

Usaha dilanjutkan dengan menghubungi Instagram. Awalnya mereka tidak mau menurunkan dikarenakan bukan saya yang ada di foto. Baik, saya mengerti, lalu saya memulai pengaduan melalui akun instagram Nucha. Alhasil, saya menerima email kabar baik dari Instagram yang telah menurunkan postingan tersebut.

Lucunya, drama terjadi justru bukan antara kami dengan pelaku, namun terjadi di Twitter. Ternyata keluh kesah saya di Twitter disambut dengan beberapa komentar yang mengarah kita kembali ke judul, “Kalau gak mau fotonya dicuri, jangan upload”. Twitter semacam terbelah 2. Ada yang pro, dan ada yang kontra.

Kembali ke pernyataan tersebut, seperti yang saya bilang, hal tersebut tidak salah, ada benarnya. Tapi, menurut saya pribadi, pernyataan tersebut bukanlah hal yang positif didengar bagi 2 kelompok orang, yang kebetulan saya termasuk di keduanya.

Yang pertama, saya sebagai Content Creator. Mengupload hasil kerja dan menyebarkannya lewat media sosial, entah itu foto, audio, video, tulisan,.. apapun itu, adalah salah satu cara bagi konten saya sampai ke penonton yang dituju dan yang lebih penting lagi, feedback. Saya sangat menghargai feedback positif dan negatif dari followers/subscribers saya. Dari situlah cara saya berkembang. Jelas masih banyak sekali yang lebih baik dari saya, jelas juga masih ada cara lain. Tapi cara ini adalah cara paling efektif yang saya tahu.

Dan bayangkan bila semua Content Creator beranggapan “Kalau tidak mau fotonya (karyanya) dicuri, jangan upload”, hanya yang luar biasa berbakat, yang akan berhasil di luar sana. Saya membayangkan, karya akan disimpan, dipatenkan, dan mungkin langsung dijual bila ingin dinikmati orang lain. Berapa banyak yang segitu berbakat, yang bisa meyakinkan orang untuk membelinya tanpa mengetahui siapakah senimannya dan karyanya sebelumnya?

Pernah dengar kisah @pinot yang karyanya dicuri oleh brand besar?

Yang kedua tapi lebih penting, bagi saya, seorang suami dan seorang ayah. Beberapa dari pembaca mungkin paham cerita perjuangan kami mendapatkan Ayra, anak pertama kami. Kebahagiaan tidak terhingga berujung pada kami yang ingin berbagi kebahagiaan kepada semua yang kami kenal, termasuk yang turut berbahagia untuk kami. Kenapa tidak? Kami pikir, alangkah senangnya bila bisa berbagi kebahagiaan dan menularkan kebahagiaan tersebut.

Dan semakin terbang tinggi di kebahagiaan tersebut, kalau kami jatuh, akan lebih sakit lagi. Penggunaan foto tersebut adalah untuk kepentingan berjualan produk/konsultasi kehamilan, di mana seolah-olah, kami berhasil hamil setelah 3 tahun, karenanya. Tidak ada satu obat / cara mujarab untuk pasti hamil. Bagi kami, semua adalah kombinasi dari banyak hal yang kita lakukan. Ini menjadi sangat personal. Dan mereka melakukannya tanpa izin kami sama sekali.

Ingat, usaha hamil, sakit yang tak berujung sembuh, atau untuk anak, biasanya bisa membuat manusia lemah, dan tidak berpikir dengan logika. Kadang-kadang, keputusasaan membuat kita hanya mendengar apa yang ingin kita dengar. Trust me, I’ve been thru this.

Spektrum yang kita bicarakan di sini sangat luas. Antara upload dan tidak upload. Banyak posisi di antara ya dan tidak, banyak bilangan di antara 0 dan 1. Contoh, dalam hal pengunggahan foto, ada cara-cara untuk menghindari pencurian, seperti dengan menggunggah format yang lebih kecil, atau menggunakan watermark. Semua itu masih lebih baik dilakukan, daripada tidak mengunggahnya sama sekali.

Sama halnya seperti mengunci motor, daripada tidak mengendarainya sama sekali.

Sama halnya dengan lebih berhati-hati saat berlari, daripada tidak berlari sama sekali.

Sama halnya dengan mempelajari bahwa kecelakaan pesawat memiliki resiko yang lebih kecil ternyata, dibandingkan kecelakaan motor, daripada tidak terbang sama sekali.

Sama halnya dengan memaknai hidup, menjadi berguna untuk sesama, daripada tidak hidup sama sekali.

Untuk catatan, pemakaian foto tanpa izin pemilik/orang yang ada di foto itu melanggar hukum. Dari segi etika pun, kawan saya, @nukman juga pernah menjelaskan etika menggunggah foto anak yang mungkin lain kali harus lebih saya pelajari lagi.

Kepada Content Creator di luar sana, teruslah berkarya, teruslah mengunggah karya sesuai dengan standar, cara & tujuan masing-masing. Maling tetaplah akan ada. Tapi maling, tetaplah maling, tetap salah. 🙂

Kepada Sang Ayah & Sang Suami di luar sana, jangan menyerah melindungi keluarga. Selama kita di jalan yang benar, maju terus! 🙂

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 comments