Berkenalan dengan Minimalism. Part 1.

Berkenalan dengan Minimalism. Part 1.

“How can we possibly be happier by owning less stuff?”

Kalimat ini mersarang di pikiran saya beberapa bulan terakhir ini. Bagaimana kita bisa benar-benar lebih bahagia dengan memiliki lebih sedikit barang-barang? Dari dulu saya berpikir saya akan lebih lengkap, lebih bahagia, lebih utuh bila mendapatkan barang yang telah saya kejar, saya mau, saya incar! Seperti smartphone yang baru saja rilis, terlihat cantik, mewah, padahal smartphone yang saya gunakan sekarang, masih bekerja dengan baik. Seperti sepatu baru yang dibicarakan teman-teman, yang menjadi suatu tanda eksistensi, padahal harganya mahal, di luar budget saya dalam membeli sepatu. Seperti… banyak!

Pernah dengar gaya hidup Minimalis (atau minimalism)?

Saya mendengar tentang gaya hidup tersebut dari The Minimalists. 2 orang yang dulunya pernah “sukses” ini menjalani gaya hidup yang sangat berbeda total dengan kebanyakan kita. Jabatan tinggi, gaji besar, kantor di sudut ruangan, mereka tinggalkan untuk hidup dengan beberapa helai baju, tanpa TV, travel dengan 1 koper dan pada dasarnya, menyingkirkan sebagian besar kepunyaannya. Mereka percaya memiliki barang-barang yang hanya menghasilkan values ke mereka. Untuk lebih lanjut tentang mereka, silakan tonton dokumenter tentang Minimalism di YouTube atau Netflix, baca blognya atau dengar Podcastnya.

Lalu, bagaimana dampaknya di saya pribadi?

 

Jujur, saya belum sanggup menjalankannya. Saya berusaha memulainya dengan melakukan giveaway beberapa gadget saya, untuk followers saya di berbagai sosial media, instagram paling sering menjadi medianya. Saya juga melanjutkan dengan sedikit mengurangi pakaian untuk disumbangkan. Kebanyakan berupa kaos dan kemeja yang masih layak pakai. Banyak sekali ternyata batik yang cuma saya gunakan sekali karena memenuhi undangan acara. What a waste.

 

Proses minimalism berlanjut dengan mengurangi pengeluaran. Hal pertama dengan mengurangi belanja sesuatu di saat baru keluar. Iya, saya belum segitu radikalnya dengan mengurangi belanja,.. titik. Setidaknya, kali ini saya mencoba menahan pengeluaran untuk memiliki gadget baru dengan menunggu,.. dan berharap ada brand yang butuh bantuan mereviewnya (ehem).

Lalu sepatu? well, sejak Bajak Jakarta 2, saya sudah berhasil menahan hasrat untuk membeli Nike, that helps. Sedangkan masih berhasil tidak terbawa jaman untuk membeli sepatu yang lebih mirip karung goni, tapi seharga motor. Masih berhasil,.. mungkin bulan depan gagal, kita lihat.

 

Terakhir adalah menghemat penggunaan listrik. Beberapa lampu di rumah diganti dengan LED sedangkan baru saja kemarin ini harus mengganti AC yang sudah tidak tertolong dengan AC inverter merek Panasonic. Daerah domisili anak cuma di sekitar ruang tamu, dan kamar tidur utama. Kedua ruangan tersebut memerlukan AC cukup lama, sekali dinyalakan, bisa setidaknya 3 jam berturut-turut. Kondisi ini cocok untuk memiliki AC inverter.

 

Nah, apa itu AC Inverter?

 

Inverter adalah teknologi dalam AC yang membuatnya lebih hemat energi. Cara bekerjanya adalah dengan menaruk “otak” yang membuatnya pintar membaca suhu udara yang bisa memerintahnya untuk mengurangi daya saat ruangan sudah dingin. Prinsipnya adalah listrik arus AC dari PLN dirubah menjadi DC, kemudian dirubah lagi menjadi AC yang frekuensinya diatur secara otomatis oleh sensor suhu. Daya yang diperlukan di awal memang lebih tinggi sedikit, namun untuk pemakaian durasi panjang, akan jauh lebih hemat.

 

Ini mungkin langkah-langkah kecil, tapi kalau banyak dilakukan secara bersamaan, kenapa tidak? Jangan jadikan saya contoh untuk mengubah gaya hidup ke minimalism, tapi benar-benar ikuti the minimalist. Dengar podcastnya, benar-benar membuka pikiran.

 

Layaknya diet yang sebenarnya tidak bisa berdurasi pendek, Just like diet, Minimalism is a lifestyle.

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments