Peraturan Baru di Spotify Family Premium Subscription yang Membingungkan

Peraturan Baru di Spotify Family Premium Subscription yang Membingungkan

“I need to re-verify my wife as a part of my family when you guys (Spotify) decided to change your terms & condition”

Begitulah penggalan isi email saya ke Spotify mengenai masalah yang mungkin beberapa dari pembaca blog ini sempat melihatnya berseliweran di Twitter. Melalui akun Twitter @sheggario, saya meminta bantuan ke @SpotifyID, @SpotifyCares dan netizen manapun yang membacanya, seandainya ada yang bisa membantu masalah yang saya alami. Masalah yang sepertinya tidak rumit, namun ternyata sebaliknya. Dan juga ternyata, saya tidak sendiri.

Sebelum menceritakan masalahnya,. perlu diketahui saya adalah pengguna Spotify sejak hari pertama mereka resmi di Indonesia. Langganan yang saya pilih adalah Spotify Premium untuk Family, seharga Rp. 79.000 per bulan. Ya, saya bayar, bukan gratisan. Saya adalah salah satu pengguna Spotify dalam kategori bukan artis (pemusik, penyanyi, band, dll) yang sudah terverifikasi. Playlist “Galau Lawas” sudah mencapai lebih dari 650 followers dan saya sendiri pun sudah memiliki beberapa followers. Spotify pun sudah memfitur saya sebagai salah satu MVP-nya di  Instagram mereka. I’m a huge, HUGE fan of Spotify.

Namun, layaknya seorang fans yang sudah sangat mencintai idolanya, sedikit ketidaksesuaian akan menghancurkan hatinya. Spotify sepertinya mengalami penyalahgunaan besar-besaran terhadap akun Family subscriptionnya. Harga 79 ribu untuk 6 user tampaknya di-abuse berlebihan untuk 6 orang yang belum tentu “keluarga”. Kadang, user memanfaatkannya untuk patungan 79 ribu untuk digunakan 6 user yang akhirnya masing-masing akan membayar di bawah 14 ribu per orang, jauh lebih murah dari premium perorangan yang 49 ribu. Ini sudah lari dari tujuan untuk berbagi playlist, history, payment ke anggota keluarga demi kepentingan keluarga sendiri, menjadi hanya demi menghemat beberapa puluh ribu per bulannya. Ini merugikan Spotify, and I totally get that.

Untuk mengatasi masalah ini, tampaknya salah satu Terms & Condition yang diubah Spotify adalah ketentuan bahwa “Family” harus tinggal di rumah yang sama, alamat yang sama. Bahkan, kabarnya Spotify akan memantau penggunaan di akun Family yang sama ini, harus dari waktu ke waktu, secara acak, dari IP group yang sama. Ini berdampak kepada membership saya. Yang terjadi adalah saya harus memverifikasi istri saya dengan memasukkan alamat yang benar (Baca: alamat yang telah terdaftar sebagai alamat saya di akun Family saya).

Nah.. masalahnya…

  1. Saya akui saya lupa persisnya alamat apa yang telah saya masukkan sebelumnya. Ingat bahwa akun ini dibuat sudah sangat lama dan peraturan ini baru.
  2. Yang diminta waktu memverifikasi adalah “Street Name”, “Street Number”, “City” dan “PostCode”. Sedangkan, alamat saya sebenarnya tidak ada “Street Number”, adanya “House Number”. Dan” di “Street Name”, apakah menggunakan kata “jalan”, “jl.” atau tanpa kata “jalan” kah yang perlu diisi?
  3. Apapun itu, saya tidak menemukan di mana saya bisa melihat ulang atau mengedit alamat yang telah saya masukkan sebelumnya. Aneh.

Yang saya lakukan untuk membenarkan kekacauan ini adalah menghubungi akun Twitter @SpotifyID, yang ternyata melempar saya ke @SpotifyCares. Yang seru adalah jawaban dari @SpotifyCares yang saya rangkum menjadi beberapa poin di bawah ini:

  1. Bahwa tidak ada cara untuk melihat lagi atau mengedit alamat yang telah saya masukan sebelumnya.
  2. Mereka menyarankan saya untuk membuat akun baru dengan alamat email yang akan mereka bebaskan. Verifikasi, followers akan dipindahkan dan langganan yang sudah terbayarkan akan dikembalikan.
  3. Namun sayangnya, handle akun @sheggario tidak bisa saya gunakan lagi untuk akun baru ini.

Deal breaker untuk saya. No deal.
Akhirnya yang saya lakukan adalah saran dari teman yang sudah lebih handal dengan Spotify, bukan saran dari Spotify-nya. Solusinya adalah:

  1. Membatalkan Spotify Premium untuk Family dari akun saya menjadi langganan gratisan.
  2. Berlangganan Spotify Premium untuk Family dari akun istri.
  3. Mengundang diri saya dari akun istri yang sudah berlangganan.

Walaupun ini menguatkan posisi saya sebagai ISTI (Ikatan Suami Takut Istri) karena akhirnya harus mengakui dipimpin istri memang solusinya… Voila, it works perfectly. I am still your subscribers!

Tulisan ini saya harap Spotify membacanya dan menjadikannya ini kritik membangun dari seorang penggemar yang sayang kepada idolanya. Tidak ada streaming music apps lain yang sanggup menyarankan musik yang di luar dugaan saya akan menyukainya. Tidak ada streaming music apps lain yang bisa membantu saya membuat collaborative playlist seperti Spotify. Tidak ada streaming music apps lain yang sanggup memberi laporan analisa musik yang saya dengar untuk mengetahui bahwa secara tidak sadar playlist ninabobo anak sudah mendominasi pendengaran saya. I do hope Spotify reads and willing to consider my following suggestions

  1. Berharap akun Twitter @SpotifyID (selain @SpotifyCares) membantu untuk market Indonesia dengan harapan tidak ada kendala bahasa dan lebih cepat (tanpa perbedaan waktu). Localized, not centralized.
  2. Seandainya yang diharapkan adalah arti kata “Family” adalah yang tinggal di 1 rumah, 1 IP group, apa mungkin mengganti paketnya bukan menggunakan kata “Family” lagi? Sudah hampir 10 tahun saya tidak tinggal bersama orang tua saya, tapi mereka masih menjadi keluarga kandung saya, bukan?
  3. Perbandingan harga premium individual 49rb dengan Family 79rb mungkin perlu ditinjau ulang, bila Family dibagi 6 orang bisa menjadi sepertiga dari harga premium individual. Entah itu menaikkan harga Family, atau menurunkan harga Individual?

Sedangkan untuk pengguna baru yang ingin berlangganan Family, ingatlah beberapa tips berikut.

  1. Akan lebih menguntungkan bila anggota keluarga dalam akun tersebut setidaknya 3 orang. Tapi ini subjektif dan relatif, sih
  2. Di saat memasukkan alamat, pastikan screen shot halaman itu, suatu saat akan dibutuhkan lagi, ternyata.
  3. Kalau yang sudah terlanjur, bisa ganti “kepala keluarga” seperti yang sudah saya lakukan.

Tulisan ini saya doakan untuk segera tidak berguna lagi. Kenapa? Karena saya deep down berharap Spotify memperbaiki system mereka tentang ini. Dear, dear, dearest Spotify, if I don’t care, if I don’t love you this much, I would shut up about it, but at the same time I would unsubscribe & move to another streaming music apps. 


Oh iya, alasan tambahan bertahan menggunakan Spotify adalah Podcastsnya. Sudah tersedia untuk Indonesia, namun masih menunggu konten lokal. Dengan harapan podcast saya dan Nucha yang baru akan bisa didengarkan di Spotify. We’ll see. 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 comments

  • Mungkin, problem Spotify Premium Family ini tidak hanya di Indonesia saja, tapi di luar negeri juga, sehingga mereka mencoba membuat one-size-fits-all solution. Di luar negeri mungkin standar penamaan jalan-nya cukup baku, sehingga bisa diperlakukan seperti itu. If that’s the case, you gotta use local solution, dear Spotify.

    On top of that, I also agree, the people who can use your app are people who can afford 49.000,- / month. You don’t have to sell yourself too short with 79.000,-/ month for six family users. No wonder people abuse it. What you need to fix is that not everyone has credit card in Indonesia. That’s what hindering people from using your service. Get another payment system that’s more convenient. Well that’s my two cent.

    • They allowed DOKU payment and I’ve been using this type of payment from day one for my personal account. You can pay from convenience store that’s spread our across the country.

      • Mungkin yang dia maksud adalah payment untuk paket Family, paket Family memang hanya menyediakan kartu kredit sebagai metode pembayaran.

  • Hi,

    Saya rasa yang jadi masalah utama di sini, khususnya dalam kasus Anda adalah karena Spotify tidak memberikan akses kepada pemilik plan (husband/father/etc) untuk melihat atau mengubah alamat lamanya. Sehingga ketika ada anggota baru yang ingin diundang akan muncul masalah karena alamat si pemilik plan sudah kelupaan, jadinya susah untuk dicocokkan, dan sialnya tidak ada cara untuk meresetnya. Seandainya Spotify mengijinkan untuk mengubah alamat, mungkin postingan ini tidak akan ada, saya pikir begitu. Namun sayangnya gara-gara masalah alamat ini, Anda jadi membahas soal harga Family.

    Saya keberatan kalau menggunakan paket Family untuk anggota yang bukan keluarga itu dikatakan abuse/penyalahgunaan. Saya sudah menanyakan soal ini ke @SpotifyCares, dan jawaban mereka cukup jelas, kalau paket Family itu bisa digunakan untuk (up-to) 6 pengguna Spotify yang tinggal di alamat fisik yang sama, tidak peduli apakah mereka related atau hanya grup, yang penting adalah tinggal seatap. Maaf, saya yakin Anda pasti sudah aware dengan ini karena pasti Anda sudah menghubungi @SpotifyCares dan menanyakan soal ini. Tapi, seriously, abuse? Dengar kata abuse saya langsung merasa dianggap selevel dengan orang yang pake fitur premium tapi gak bayar.

    Oh ya, dari mana sumbernya kalau Spotify merugi karena penggunaan paket Family oleh anggota non-family ini? Saya malah menganggap kalau paket inilah yang paling menarik dan paling besar potensinya untuk dapat membuat pengguna Spotify beranjak dari Spotify Free. Karena menurut pengalaman saya, beberapa teman sekarang sudah punya “Family” masing, padahal dulunya tidak pakai Spotify sama sekali. Bagaimanapun juga, bagi Spotify paket Family masih lebih mendatangkan penghasilan dibanding yang paket free, walaupun digunakan bersama-sama oleh anggota non-family.

    Saya setuju untuk meninjau ulang harga paket Family, tapi tidak setuju kalau harga Family dinaikkan. Dinaikkan untuk alasan apa? Kalau tidak salah ingat penurunan harga paket Family adalah salah satu cara Spotify untuk bersaing (dengan Apple Musik ?) Masa sih Spotify mau menaikkan harga lagi.

    Soal “sweeping” berbasis IP, saya berharap ini tidak benar-benar terjadi. Karena satu orang bisa sama IP nya dengan orang lain dari ISP yang sama, dan yang paling penting adalah karena tidak semua rumah (yang berisi pengguna Spotify) punya akses wi-fi. Dalam satu rumah yang berisi 5-6 orang misalnya, bisa saja memakai smartphone yang providernya berbeda-beda.

    Last but not least… When in doubt, take a screenshot. Seriously, take a screenshot.

  • Sayangnya ada peraturan di spotify yang menulis bahwa

    “Catatan: Kamu hanya bisa beralih dari satu paket Family ke paket Family lain satu kali setiap 12 bulan.”

    Sehingga saya tidak bisa langsung ganti “kepala keluarga” seperti yang anda lakukan.

  • Yaps. ini persis yang saya alami. anggota keluarga saya ndk bisa juga, saya lupa alamat lengkap saya dulu apa.