Sebulan Berpindah dari Mac ke Windows

Mualaf? Mungkin istilah yang terlalu berat untuk mengibaratkan berpindah Operating System. Tapi buat sebagian orang, sebagian geek, tech enthusiast, ini merupakan langkah besar.

 

Mari kita mulai mundur saat kala pertama saya menyentuh komputer secara serius. Artinya serius di sini adalah berintaksi sehari-hari dengan komputer. Saat itu saya berumur 16 tahun dan bersekolah Diploma (D3) di Perth, Australia. Komputer pertama saya adalah Gateway, sebuah produsen komputer dari Amerika Serikat yang sudah diakuisisi oleh Acer pada tahun 2007. Dengan spesifikasi Intel Pentium III 500Mhz dengan monitor tabung layar cembung 14 inci dan Operating System Microsoft Windows 98, saya berkenalan dengan dunia komputer dan Internet. Itu adalah tahun 1999 dan saya langsung jatuh cinta hingga berniat belajar mengambil jurusan Internet Computing.

 

Terekspos dengan negara lain, pikiran terbuka, melihat hal-hal keren, berkenalan dengan banyak orang dari banyak negara, ketertarikan saya terpecah. Ketertarikan saya di Internet Computing bercabang ke Communications, tepatnya Interactive Multimedia. Menyelesaikan diploma berpindah ke bachelor di Edith Cowan University, saya berpindah major ke Interactive Multimedia dan minor di Communications. Pendeknya, saya lebih menuruti niat kreatif saya dibanding logika. Well, bisa jadi juga karena Internet Computing terlalu susah, sih.

 

Alhasil, untuk lebih bermain di otak kreatif, saya dikenalkan oleh Macintosh, Apple oleh kampus. Begitu indah memang Mac pada jaman iMac awal baru diluncurkan ditempatkan di lab-lab seluruh kampus, jurusan komunikasi. Tergoda dicampur dengan bumbu FOMO (Fear Of Missing Out), belilah saya Power Book pertama saya. Belasan tahun berjalan, tidak hingga baru 2 tahun lalu saya akhirnya hidup di 2 “agama” dengan menggunakan Mac OSX dan Windows 10, dengan agama utama masih Mac.

 

Nah, baru sebulan lalu, dengan kehadiran laptop flagship terbaru, terbaik, dari HP, HP Spectre x360, saya menjadikan Windows agama utama saya. Yes, video dalam artikel ini adalah review saya mengenai laptop cantik ini. Sebulan berjalan, saya mulai terbiasa dengan letak layout keyboard, yang merupakan salah satu yang membuat saya canggung dalam mengetik dengan laptop ini awalnya. Tapi, yang lebih penting lagi dalam mengubah kebiasaan adalah Operating System-nya.

 

Windows 10 yang saya gunakan sudah di versi Creators Update, versi terbaru. Walau belum terasa sepenuhnya perbedaan yang ada dibanding Anniversary update, tapi kebiasaan menggunakan Windows sudah mulai terbentuk, dan sudah nyaman! Bahkan tanpa antivirus terinstall hingga saat ini.

 

Dalam mengedit video, saya sudah menggunakan Adobe Premiere CC yang memang tersedia untuk Mac dan Windows, tidak ada yang baru di situ selain perbendaharaan font. Yang akhirnya toh bisa saya cari sambil mengeksplorasi lebih banyak lagi database font di internet.

 

Dalam bekerja, Office for Windows tentunya lebih maksimal dibanding Office for Mac. Internet Browser sudah menggunakan Chrome sejak di Mac, yang juga tersedia di Windows. Dan sampai akhirnya baru beberapa hari lalu, aplikasi favorit untuk email (Newton) yang sudah saya gunakan di Mac, iOS hingga Android, kini hadir (dalam versi Beta) di Windows. Dan pamungkasnya, memang ada aplikasi untuk kantor yang berbasis Java, yang lagi-lagi, lebih maksimal bekerja di Windows. Ini dia, bila “nabi” kantor, sumber penghasilan sudah bersabda, tidak bisa dibantah.

 

Dalam hiburan pun, menonton Netflix dengan aplikasi sendiri, mendengarkan Spotify, semua nyaman dan dengan suara yang di atas rata-rata dengan paduan Bang & Olufsen pada pada speaker dan teknologi prosesing suaranya. Quad speaker, yang kadang begitu bagusnya sehingga menggangu anak dan istri yang sedang tidur, sehingga saya sampai tergoda untuk membeli Beoplay H5!

 

Dalam bermain game,.. mmm, walaupun saya bukan gamers, tentunya sudah jelas jenis game lebih banyak di Windows daripada di Mac. Dan HP Spectre x360 dengan Intel Graphics 620 sudah cukup mampu digunakan untuk bermain PES 2017 dengan 60 fps. Win.

 

Dan terakhir, dalam bergaya, well, boleh dibilang, momen paling berharga bekerja dengan HP Spectre x360 adalah di saat mengeluarkan dari tas, membuka dan menyalakannya, sambil memesan segelas cappuccino. Kelas.

 

Sebulan pindah “agama”, hampir tidak pernah merindukan Mac. Hal kecil yang masih saya tunggu adalah adanya aplikasi Tweetdeck untuk Windows, yang hingga saat ini saya masih menggunakan Chrome untuk TweetDeck. Selain itu, lebih banyak positifnya dibanding negatifnya untuk saya pribadi. Tentu saja bisa berbeda untuk beberapa orang. Tapi untuk lebih dipertimbangkan lagi adalah kebutuhan (baca: pekerjaan) masing-masing. Dulu berpindah ke Mac karena tuntutan kuliah, sedangkan kembali lagi ke Windows karena tuntutan pekerjaan. Bila kebutuhan Anda bisa tersedia di Mac dan PC, tinggal faktor preferensi pribadi penentunya. Bisa design, kebiasaan, budget, dll.

 

Bagaimana dengan Anda? Pernah berpindah Operating System? Tertarik untuk share di sini?

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 comments

  • Sejauh hidup gue yang gak jauh-jauh ini, alhamdulillah gw diberi kesempatan untuk mencicipi segala macam jenis OS, mulai dari DOS, Windows, Linux, FreeBSD, hingga OSX. Bahkan, dulu sebenernya sudah sempat mencicipi Mac OS (bukan macOS) melalui Executor.

    Tapi, sekarang, seiring berubahkan kebutuhan dan juga semakin matangnya teknologi OS, tak banyak perbedaan antar OS yang ada. Aplikasi banyak yang mutli-platform, beberapa berbasis web sudah pasti crossplatform. Tak lagi fokus di OS, atau aplikasinya, kini lebih fokus pada pekerjaannya.

    Jadi, yang dipilih lebih ke kualitas hardware yang sesuai dengan kebutuhan. Alhasil, akhirnya memilih ThinkPad setelah satu dekade memakai PowerBook dan MacBook Pro.

    MILSPEC shay! Aman diinjek anak :))

  • Dari pertama kali kenal komputer udah langsung pake windows sih. Tapi pernah pake linux, itupun karena buat server. Jadi dibilang pindah juga enggak. Udah nyaman banget pake windows, apalagi sekarang ada office 360 yang sepaket dengan one drive cloud dengan kapasitas 5 TB

  • Akhirnya Ada windows based laptop yg patut di perhitungkan. Yeah, I need a workhorse, light, battery power etc so could see my self getting this very very soon