AI / Digital Assistant di Kehidupan Sehari-hari

AI / Digital Assistant di Kehidupan Sehari-hari

I know, I know, I promised you a piece every Thursday, and this is Saturday. Sorry I’m late, here we go…

Sudah nonton “Her” kan?

Film keluaran tahun 2013 ini bercerita tentang seseorang yang introvert & anti sosial bernama Theodore (diperankan oleh Jaqcuin Phoenix) yang jatuh cinta dengan sebuah AI (Artificial Intellegence) bernama Samantha. Menurut Theodore, Samantha berhasil menata kembali hidup Theodore, dan dengan Samantha-lah Theodore selalu berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.

Sounds familiar? Yup, ada yg bilang film ini terinspirasi oleh Siri. Artificial Intelligent atau Digital Assistant keluaran Apple.

Sebenarnya kapan sih awal mula AI ini lahir?

Bisa dibilang AI umurnya sudah setua komputer pertama kali dikeluarkan. John McCarthy, seorang ilmuwan komputer dari Standford University-lah yang pertama kali mengeluarkan Istilah Artificial Intelligent pada tahun 1956 di sebuah konferensi. “As soon as it works, no-one calls it AI anymore” ujar John McCarthy.

Di tahun 2017 ini, AI atau Digital Assistant sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita. Hampir semua brand Smartphone sudah memiliki Digital Assistant andalan mereka masing-masing. Apple dengan Siri, Google dengan Google Assistant & Google Now, Amazon dengan Alexa dan yang terbaru adalah Samsung dengan Bixby di Galaxy S8. Well, ada juga Cortana punya Windows. Tapi..mungkin bisa baca tulisan blog saya sebelumnya: http://sheggario.com/2017/03/24/whats-next-windows-phone/

Dari seluruh Digital Assistant yang sudah pernah saya coba, sejauh ini saya paling nyaman menggunakan Google Now. karena Google now tidak hanya merespon interaksi melalui pertanyaan, tapi juga menyiapkan dan mengingatkan hal-hal yang mungkin terlupa oleh kita, contohnya menampilkan Boarding pass, nomor tracking pengiriman barang hingga lokasi parkir. Kadang, tanpa kita mengatur jadwal penerbangan kita di Google Calendar, jadwal penerbangan sudah masuk sendiri. Dari mana? Google ternyata menyisir isi email kita di Gmail! Kadang, menakutkan memang.

Kalau dilihat, hanya dalam beberapa belas sampai dua puluhan tahun, perkembangan AI ini sudah sangat pesat. Mereka sudah dapat melakukan tugas-tugas sederhana sampai menengah. Dengan segala perkembangan pesat tentang AI, kadang suka terpikir.. Apa yang terjadi apabila di masa depan nanti AI menjadi lebih pintar daripada manusia? Atau mengambil contoh dari film Her, bagaimana jika AI memiliki emosi seperti jatuh cinta, marah dan sedih? Mungkin pikiran saya agak terlalu jauh, tapi hal tersebut bukan tidak mungkin terjadi, kan? Dan ternyata Stephen Hawking dan Elon musk (CEO Tesla) ternyata juga pernah mengutarakan hal yang sama. Mereka khawatir apabila perkembangan AI ini semakin jauh dan makin tak terkontrol. Well, semoga pemikiran ini tidak benar kejadian di masa depan nanti. Bukan menghentikan AI untuk lebih pintar dari manusia. Tapi membuat manusia lebih pintar dari AI, dong!

Menurut saya AI sangat bermanfaat apabila masih dalam batasan-batasan tertentu. Bagaimana dengan kalian? Apakah AI bermanfaat di kehidupan sehari-hari buat kalian? tulis di kolom komen ya! 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *