Smartwatch, Kemauan atau Kebutuhan?

Smartwatch, Kemauan atau Kebutuhan?

Sekitar tahun 2012-2013, Pebble meluncurkan sebuah Smartwatch bernama Pebble watch via Kickstarter. Hasilnya di luar dugaan, dengan target US$100,000 pledge, pebble bisa mencapai US$1.000.000 pledge! Ini meskipun konsep Smartwatch sudah pernah ada yang membuat sebelumnya, Pebble tetap disebut sebagai salah satu pionir Smartwatch dan berhasil mempopulerkannya. Hingga di tahun 2016, Smartwatch bisa dibilang adalah salah satu Wearable Technology paling populer. KIta lihat saja saat berjalan di tempat umum seperti mall, betapa banyak orang-orang Apple Watch, Pebble Watch atau Samsung Gear.

Tapi bagaimana di 2017 ini?

Saya sudah pernah pakai berbagai macam smartwatch, mulai dr Pebble Smartwatch, Android Wear (Moto 360 2nd Edition, Fossil Q Marshal) & Apple Watch. So far, pengalamannya cukup menyenangkan. It’s nice to have notifications on your wrist. Bisa lihat whatsapp, e-mail dll hanya dari Smartwatch, bisa jawab telepon langsung dari Smartwatch, dan lain-lain. keren kan? Iya, keren. Tapi apakah perlu?

Seperti yang saya bilang, It’s nice to have. But is it necessary? Sejujurnya, gak sepenting itu.

Kalau mau dibuat perbandingan, bisa dibilang sekarang saya tidak bisa hidup tanpa Smartphone. Kalau Smartphone sampe ketinggalan? Bisa gila seharian. Tapi kalo Smartwatch? kayanya sih santai. 😀 Dulu memang ada jamannya gelisah ketinggalan Smartwatch, hanya karena kehilangan hitungan activity trackernya. Awalnya saya pikir, kayanya saya aja yang mulai bosan, tapi setelah baca-baca di beberapa blog dan website luar, ada beberapa data yang menarik, seperti:

Berdasarkan Data dari IDC, di Q3 2016, Apple mengalami penurunan shipment untuk Apple Watch hingga 71 persen. Total 1.1 juta unit, dibandingkan tahun lalu sebesar 3,9 juta unit.

Lenovo, memutuskan untuk tidak melanjutkan moto 360 (salah satu Android Wear pertama yang dirilis) dalam waktu dekat ini. “Wearables do not have broad enough appeal for us to continue to build on it year after year,” Lenovo’s head of global product development for the Moto brand Shakil Barkat (dikutip dari theverge).

Pebble, di akhir tahun 2016 dibeli oleh fitbit senilai US$ 40 juta. Setelah sebelumnya dilaporkan hampir bangkrut. Padahal, di masa keemasannya, Citizen sempat berencana membeli Pebble senilai US$ 740 juta, namun ditolak.

Bisa dilihat, trend smartwatch di seluruh dunia memang sedang menurun. Sepertinya, banyak yang berpikiran seperti saya. Tapi, apakah itu berarti smartwatch gagal? bisa iya, bisa juga tidak. Menurut saya pribadi, Smartwatch sekarang sedang dalam fase Reshaping, masih mencari bentuk yang paling pas. apakah improvement di daya tahan batre yang harus ditingkatkan? atau di segi fungsi harus diperbanyak? dan lain-lain. It’s time to take one step back to make two steps forward. Mungkin ini adalah fase yang sulit, tapi mau gak mau memang harus dilalui. Semoga brand-brand yang ada melakukan PR mereka ini dengan baik.

PS. Saya juga kangen menggunakan jam mekanik. Ada yang merasakan hal yang sama?

Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk -Tan Malaka-

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment