Hei, Whatsapp! Harusnya Kamu itu…

Hei, Whatsapp! Harusnya Kamu itu…

Berapa banyak dari kita yang berantem, sampai harus leave group Whatsapp karena pilkada?
Atau bahkan belum baekan sejak pemilu kemarin?

Berapa banyak dari kita yang berubah pandangan suatu orang atau kelompok hanya karena obrolan di whatsapp, atau broadcast message?

Berapa banyak yang dari kita akhirnya mute grup selama mungkin, atau sampai lelah dengan whatsapp?

Tulisan ini saya dedikasikan untuk aplikasi chat paling populer di Indonesia. Well, setidaknya untuk kalangan saya, yang cukup menyentuh usia dewasa, tapi belum berumur. Iya, di kalangan usia bawah saya, LINE masih cukup populer. Mungkin, Whatsapp banyak dipilih untuk dipakai karena sifatnya yang tidak berusaha menjadi “beda” dengan gimmicks, news dan promo2 seperti di aplikasi lain (LINE, wechat dll). Whatsapp memang hanya fokus pada fungsi dasarnya saja, yaitu mengirim pesan.

Sedangkan yang lebih senior, masih menggunakan BlackBerry Messenger?

 

Whatsapp, yang merupakan bagian dari Facebook adalah aplikasi yang tidak bisa lepas dari saya sehari-hari. Pusat kegiatan komunikasi saya 80% ada di Whatsapp. Bahkan dalam beberapa kondisi, saya lebih memilih untuk chat daripada telepon. Situasi ini biasa terjadi di saat saya meeting, sedang dalam acara, hingga bersebelahan dengan anak yang sedang tidur. Chatting itu nyaman, bisa dipikirkan dengan baik, dan… tersimpan. Cocok untuk saya yang (agak) pelupa.

Namun Whatsapp bukan tanpa kekurangan, berikut ini saya mencoba berandai-andai bagaimana Whatsapp bisa lebih baik:

 

Ada pilihan, menggunakan nomor telepon atau email

Beberapa dari kita sungguh masih ada yang menghargai privasi. Kadang, di dunia online yang serba transparan ini, mungkin pertahanan terakhir privasi kita adalah nomor hp atau alamat rumah. Menggunakan Whatsapp berarti memberikan nomor hp kita. Tidak jarang akhir-akhir ini menerima broadcast message dari nomor yang kita tidak kenal. Seandainya Whatsapp bisa berbasis email juga selain nomor hp, hidup akan sedikit lebih tenang tanpa tawaran kartu kredit, KTA, hingga mama minta pulsa.

 

Persetujuan sebelum masuk grup

Grup Whatsapp membantu kita melacak teman lama, mengatur reuni, atau mungkin sekedar mengisi waktu dengan guyon. Tapi, grup Whatsapp bila dimultiplikasi, bisa memusingkan, bila ada perbedaan prinsip, bisa merusak hubungan, bila terlalu banyak mengirim gambar, audio atau video, bisa memperberat smartphone. Akhir-akhir ini, bagi saya, Whatsapp Grup lebih banyak kurangnya daripada lebihnya. Bila saja Whatsapp bisa memberikan peringatan saat kita akan diundang ke sebuah grup. Lebih tepatnya, persetujuan. Memang, baiknya dalam mengundang seseorang ke dalam grup Whatsapp, kita bisa minta izin melalui japri. Tapi, tidak semua bisa berpikiran demikian, bukan? Mbok yo, Whatsapp, kulonuwon dulu

 

Hilangnya notifikasi saat meninggalkan group 

“Duh, mau ‘leave group’ ga enak nih, keluarga.” Mungkin sering terucap dalam hati. Bukan hanya di Grup Whatsapp Keluarga, Grup Sebelah, Grup Perjuangan, tapi grup apapun. Kita semua pengguna Whatsapp tahu bahwa Whatsapp mengeluarkan notifikasi di dalam chat group bila seseorang ada yang meninggalkan grup. Ini meninngalkan kita dengan dilema, “mau tetap ada di grup, tapi kok prinsipnya sudah beda”, “mau meninggalkan grup, nanti saya dibilang apa?”

 

Pemerataan di Operating System yang berbeda

Lain di Android, lain di iOS.
Contoh: Struktur pembagian file media. Di Android langsung masuk ke galeri kita sedangkan di iOS seolah masih tersimpan di aplikasi Whatsapp, tanpa ada di galeri.

Satu lagi yang mengganggu dalam perbedaan Operating System adalah perbedaan tempat backup dalam cloud. Pernah mencoba memindahkan Backup chat & media dari Android ke iOS atau sebaliknya? Sama susahnya mungkin dengan menjelaskan apa itu Cloud ke orang tua kita. Errr..

 

Bisa menjadi radar Hoax

Mungkin ini berlebihan, tapi saya sedikit kenyang dengan banyaknya hoax yang beredar melalui Whatsapp group. Bingung juga dengan malasnya beberapa orang untuk double check suatu berita, atau memang… sengaja. Atau setidaknya melihat Gudang Hoax? Hoax yang dimaksud biasanya berhubungan dengan politik, selebriti yang meninggal atau bahwa kanker bukan penyakit.

Maaf.. Curhat.

 

Iya, ini adalah curhatan hati saya dalam sehari-hari menggunakan WhatsApp. Curhatan seseorang yang memang butuh sarana komunikasi seperti ini, bukan karena fitur-fiturnya, tapi karena banyakanya rekanan, keluarga, teman yang ada di whatsapp. Toh pilihan aplikasi chat yang kita gunakan, tergantung lingkungan kita kebanyakan di mana, bukan?

Silakan tambahkan fitur yang kalian inginkan, mari kita diskusi, siapa tahu nyampai ke Facebook?

 

PS: Tulisan ini dibuat berdasarkan observasi saya di tanggal tulisan ini keluar. Well, kalau Whatsapp melakukan perubahan (update),.. ya bagus! πŸ˜‰

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 comments

  • Buat gue, cukup sembunyikan nomer hp saat cek Anggota Group. Terutama untuk yang nomornya belum ada di contact kita.

    Bukan apa-apa, sekarang kebanyakan orang langsung message dulu tanpa permisi, ngejelasin dianya siapa dan dapet nomor kita dari mana.

  • Whatsapp for business would be great

  • Mungkin buat gw semua tulisan lo cukup mewakili mas..
    Tambahan mungkin yah, kadang gw suka bosen aja sama icon whatsapp yang gitu2 aja..
    Semoga ada update’n dari segi icon, interface.
    😁

  • Bzzz emg ngeganggu sih tiba2 kita save nomor someone yg ga kita harap tb2 chat nawarin something.. Atau broadcast apaaaa gt.. Lebih private harusnya..
    Pindah telegram, lah sama aja.. Semua kontak kita punya, lsg sync.. Well setidaknya yg dulu dulu (bbm maksutnya) enak soalnya ada adding and accepting process haha

    But, nice topics bruhh.. Keep it up..

  • Fitur yang ane pengen, fitur polling di grup kayak polling Twitter dan Google Plus. Apalagi untuk grup yg banyak anggota nya, soalnya kadang kalo diminta memilih/vote dalam grup, banyak bgt chat gak penting berurutan sekedar hanya untuk menjawab pilihan tsb. Plus bisa lihat siapa juga yang voting.