Belajar Tentang Dunia Rokok Melalui Mad Men

Belajar Tentang Dunia Rokok Melalui Mad Men

Saat ini saya sedang duduk sambil bekerja dan menyeruput kopi di suatu restoran di salah satu Mal di bilangan SCBD. Restoran ini dulu dikenal memiliki satu ruangan besar, tanpa pembatas jelas di mana area merokok dan di mana area bebas asap rokok. Suatu waktu akhirnya manajemen mal memberlakukan aturan untuk menjadikan mal tersebut, termasuk semua tenant di dalamnya, menjadi daerah bebas asap rokok. Restoran ini otomatis harus nurut dan akhirnya menjadikan seluruh areanya bebas asap rokok.

 

Apa yang terjadi? Sepi!

 

Perokok lari ke coffee shop lain yang menyediakan daerah merokok yang memenuhi syarat, yaitu daerah outdoor. Tak ada pilihan lain bagi manajemen restoran tersebut untuk melakukan renovasi, untuk mengakomodir kembali pelanggan yang merokok.

 

Oh ya?

Renovasi demi asap rokok?

Bagaimana dampaknya dengan imagenya?

Benar berani menyampaikan pesan bahwa mereka mendukung rokok?

Yang notabenenya adalah sebuah produk yang sejak tahun 60-an sudah dinyatakan berbahaya untuk kesehatan dan kian tahun kian tertekan cara berjualannya.

 

Nah, mari kita lihat balik ke belakang.

 

Kebetulan rokok menjadi perhatian saya, bukan hanya karena saya tidak merokok dan peduli terhadap kesehatan, tapi rokok adalah produk yang sangat menarik di dunia periklanan. Industri rokok adalah industri terbesar di Indonesia, well, setidaknya 2 orang terkaya di Indonesia berangkat dari berjualan rokok. Cukai rokok masih merupakan penghasilan besar untuk Indonesia.

 

Begitu banyak yang bisa diriset tentang rokok. Tapi saya memilih riset dengan cara yang lebih santai dan menyenangkan, yaitu menonton film.

 

Mad Men

Saat ini saya sedang hooq’d (baca: kecanduan) menonton serial Mad Men. Mad Men adalah kiblat film seri untuk penggiat dunia advertising. Di set di tahun 60an, dengan mobil, gaya rambut, gaya berpakaian yang diset untuk memesona orang tua kita.

 

Mungkin kakek nenek sebagian pembaca di sini.

 

Anyway, kembali ke Mad Men. Bersiap-siap untuk mendengar spoiler untuk Season 1, Episode 1, yang mungkin menggoda kalian untuk menonton episode-episode selanjutnya.

 

Banyak film seri besar yang bergantung di adegan awalnya. Mad Men dengan setting tahun 60an, dalam bar yang dipenuhi pria-pria yang sedang merokok, menggoda wanita-wanita yang ada. Ruangan sangat berasap, hampir semua di situ merokok. Termasuk tokoh utamanya, Don Draper.

 

Don Draper, pria kulit putih yang tentunya harus rupawan, duduk di salah satu meja, sendiri sambil merokok Lucky Strike. Yang dia tuju adalah riset, yaitu mungkin memilih bar penuh perokok dan akhirnya bertanya ke salah satu pelayan berkulit hitam tentang rokoknya. Perlu diketahui di tahun-tahun tersebut, rasisme masih terasa, sehingga adegan Don Draper sangat kuat menunjukan perbedaan kasta, seperti anggota kerajaan bertanya kepada pelayannya. Terlihat dari cara atasan dari pelayan tersebut menegurnya cuma karena berbicara dengan Don.

 

Don bertanya kepada pelayan itu tentang mengapa dia merokok rokok tua, bukan Lucky Strike yang saat itu, dikenal sebagai rokok modern. Pelayan, walau tahu bahayanya rokok setelah membaca tulisan di Reader’s Digest, tetap menyatakan alasan sederhana bahwa dia cinta merokok. Sesederhana itu.

 

Tapi masalah mulai terasa di saat industri mulai goyah karena hasil-hasil riset yang menunjukkan rokok sangat berbahaya untuk kesehatan. Beriklan tidak bisa berbohong untuk menyatakan sebaliknya. Namun di lain sisi, harus tetap menjual.

 

Perjalanan otak kreatif Don Draper mencari jawaban untuk tetap bisa mengiklankan rokok. Mulai dari kehidupan dia yang “bertempat tinggal” di kantor, memiliki beberapa kemeja cadangan untuk siap langsung berganti untuk meeting berikutnya, beberapa botol wiski, bahkan kehidupan pribadinya yang juga ditunjukkan, bermasalah. Itu semua adalah proses kreatifnya Don, yang diperankan sangat sempurna oleh Jon Hamm.

 

Di episode ini, perjalanan Don Draper menemukan tagline “It’s Toasted” untuk Lucky Strike adalah kisah yang diadaptasi dari kejadian nyata.

 

Sedikit banyak, menonton Mad Men membantu saya sedikit riset, belajar sejarah, sambil menikmatinya di mana saja. Iya, di mana saja!. Itu semua berkat aplikasi bernama HOOQ, aplikasi yang sudah saya pernah review di YouTube channel saya. Dengan fitur baru HOOQ, memungkinkan saya untuk menonton film-film yang saya inginkan secara offline dengan mendownloadnya di mana ada koneksi internet, untuk ditonton di saat tidak ada koneksi internet.

 

Mad Men hingga saat ini sudah sampai 7 musim karena mendapat respon yang cukup baik, jelas. Untuk menyelesaikan 7 musim ini tentu waktunya tidak sedikit. Tapi saya tidak berdaya untuk menunggu waktu bebas di antara kerjaan dan bermain dengan anak. Satu-satunya waktu bebas saya adalah di saat saya di Uber, atau bersama supir. Alhasil, download sebanyak mungkin di rumah, dan menontonnya di tablet/laptop, di perjalanan, di café, hingga di pesawat.

 

Restoran yang saya bicarakan di awal tulisan itu akhirnya melakukan rebranding yang mungkin merupakan dalih dari renovasi. Dengan manajemen dan staff yang hampir sama, mereka mengganti nama, menu, dan membangun pintu antara ruang bebas asap rokok dengan ruang merokok yang tanpa AC dan membuka jendela lebar-lebar layanya outdoor. Brilian!

 

HOOQ berhasil membantu saya mengamati hal lebih dalam dengan lebih santai. HOOQ pun berhasil mendifinisikan ulang arti kata candu. Candu bukan terhadap rokok, tapi candu terhadap teknologi. I am officially HOOQ’d. HOOQ Time, Anytime.

 

PS. Silakan membaca tulisan saya sebelumnya tentang HOOQ, dan reviewnya di YouTube

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *