Mencari alasan untuk ASUS Zenbook Flip UX360C. Should I?

Mencari alasan untuk ASUS Zenbook Flip UX360C. Should I?

Memilih laptop mungkin memang pada dasarnya terbagi 2, Mac atau Windows. Bisa dibilang memilih antara Mac and Windows sudah bagaikan memilih agama. Yang di Windows akan susah berpaling ke Mac, dan sebaliknya. Tulisan ini tidak akan fokus di situ. Tapi mungkin lebih cocok untuk yang sudah ada di “agama” Windows dan mencari upgrade yang mumpuni untuk laptopnya.

 

Saat ini pun saya sedang mencari laptop Windows. Saya adalah pengguna Mac dan Windows. Windows yang saya gunakan di rumah adalah sebuah all in one PC yang diperuntukan untuk keluarga. Jadi, penggunanya pun bukan hanya saya. Saya butuh sesuatu yang bisa membuat saya lebih mobile, lebih pribadi, tentu sesuatu yang ringan, namun cukup kuat untuk melakukan hal sehari-hari saya, termasuk sesuatu yang cukup berat, yaitu editing.

 

ASUS meminjamkan saya Zenbook Flip UX 360C. Namanya cukup susah disebut, jujur saja. Namun setelah ditelaah saya dapat mengerti flip 360 datang dari mana. Layarnya dapat di-flip ke belakang keyboard untuk mengubahnya menjadi mode tablet. Dalam keadaan ini, keyboard dan trackpad otomatis menjadi non-aktif dan Windows langsung bertanya apakah kita mau mengubah modenya ke tablet. Fleksibel. Sedangkan maksud 360 adalah kebisaan laptop ini untuk digunakan dari arah manapun. Landscape, portrait, tablet mode, laptop mode, hingga tent mode.

dscf7021

dscf7026

dscf7022

 

Layar 13.3 inch ini boleh dibilang cukup nyaman di mata dan di tangan. Dengan berat 1.3 kg membuatnya cukup nyaman untuk berada di tas. Tapi menurut hemat saya, dalam posisi tablet, masih agak berat untuk diangkat 1 tangan. Layar cukup terang, Full HD, warna yang bagus dan ada teknologi Splendid Display yang berguna untuk layar bisa menyesuaikan warna dan tingkat keterangannya terhadap ambience ruangan. Sayangnya, dalam mode laptop, engsel layarnya kurang solid. Ini terasa di saat kita menyentuh layar hanya dengan sedikit tenaga, layarnya goyang.

dscf7019

Keyboardnya pun responsif, senada warnanya dengan body, tergantung warna yang dipilih, namun belum ada backlightnya, di mana bila digunakan malam hari, akan sedikit menantang.

dscf7020

1 hal yang menyenangkan untuk saya adalah konektifitasnya. Selain nirkabel seperti Wifi & Bluetooth, laptop ini juga masih ada koneksi USB 3.0, SD Card reader di sebelah kiri dan di sebelah kanan ada audio jack 3.5mm, micro HDMI, USB-C, USB 3.0 dan power. Dalam hal ini, bila harus membandingkan dengan generasi Mac yang baru, mungkin ini masih lebih baik. Wait, tapi mungkin baiknya tidak dibandingkan yaa..

dscf7025

dscf7024

Sebelum kita menarik kesimpulan, mungkin kita lihat spesifikasi dan performanya.

– Processor: Intel Core m3-6Y30 0.9GHz
– OS: Windows 10
– RAM: 8GB LPDDR3 SDRAM 1866MHz
– Storage: 512GB SSD SATA III
– Display Size: 13.3″ – 1920 x 1080 Full HD
– Graphics Card: Intel HD 515
– Battery Life: 7hrs 38min
– Weight: 2.86 lbs/1,3Kg
– Dimensions: 12.71 x 8.66 x 0.54 inches
– WiFi: 802.11ac

Saya menyenangi hadirnya SSD 512GB yang memberikan performa sangat lumayan untuk editing dengan Adobe Premier CC. Intel Core M3 juga sangat mumpuni. Selama editing cukup kuat, saya tidak masalah (kecuali kamu edit dengan Final Cut Pro X, maka Mac lah solusinya) Toh saya tidak bermain game dengan laptop ini. Dan akhirnya, hadirnya Windows 10 langsung out of the box membuat hati semakin tenang. Windows 10 makin hari makin nyaman digunakan memang.

Yang terakhir, saya masih berpikir panjang untuk mengeluarkan duit 15jt untuk laptop cantik ini. What do you think, guys? Should I?

dscf7029

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments