Review: Vivo V3 – “Naik Kelas”

Bagi yang follow Twitter saya, mungkin memantau bahwa ini adalah masa transisi saya dari iOS ke Android sebagai daily driver. Interface iOS dengan Android sangat berbeda jauh, termasuk dari segi UI (User Interface) atau UI (User Experience). Launcher yang ditawarkan Vivo V3 dengan nama FunTouch OS adalah yang paling menarik perhatian saya. UX-nya sangat terasa seperti iOS. Tapi, sebelum kita lebih dalam lagi, mari kita bahas dasar-dasar dari Vivo V3 ini.

Mari kita mulai membahas Vivonya terlebih dahulu. Vivo, walaupun mereka tidak pernah mengumbarnya, tapi adalah 1 keluarga dengan Oppo dan OnePlus. Di China, Vivo sudah besar, apalagi jika digabungkan dengan Oppo & OnePlus. Saat ini, dipisah pun mereka cuma ada di bawah Samsung, Apple & Huawei

Vivo V3 adalah varian di bawahnya Vivo V3 Max. Perbedaannya ada di performance dan ukuran layar. V3 menggunakan SnapDragon 616 dengan RAM 3GB dibalut dengan layar 5 inci sedangkan V3 Max diperkuat SnapDragon 652, RAM 4GB dan layar 5.5 inci. Perbedaan itu dihargai sekitar 1,5 juta. 

Performance kelas menengah saya tentukan dengan prosesor dan memori yang digunakan. Tapi dengan tambahan fitur seperti pembacaan sidik jari yang cepat, pembungkusan dengan casing berbahan metal dan warna emas, yang tampaknya menjadi warna gadget paling populer selama 2015-2016. Designnya cukup elegan, tanpa gimmick yang berlebihan, … kelas!

Kamera pun dengan resolusi 13MP (belakang) dan 8MP (depan), boleh dibilang, cukup, bisa dilihat hasilnya sendiri.

IMG_20160729_075417

IMG_20160729_075426

IMG_20160729_153010

Yang menarik dari Vivo V3 ini adalah OSnya, berbasis Android 5.1 dengan bungkus FunTouch OS 2.5 (Jangan salah sebut). FunTouch ini lumayan mendekati iOS. Dari perpisahan Notification Center (swipe dari atas), Control Center (swipe dari bawah), beberapa aplikasi yang dimulai dengan huruf “i” (i Manage, i Theme, i Music), dan tidak adanya app drawer layaknya Android lain. 

Ini bukan hal yang buruk. Android pun banyak keunggulan daripada iOS (ini salah satu alasan saya mengubah daily driver saya dari iOS ke Android). Android memiliki widget, Android lebih terbuka, lebih gampang memindahkan file keluar atau masuk ke Android dan integrasi ke Google services yang lain seperti calendar, contacts, drive, playstore, etc. 

Jadi boleh dibilang ini sangat cocok untuk yang mau menghemat budget, sambil naik kelas namun masih membawa kemampuan dasar Android. Vivo V3 dijual dengan harga Rp. 3.499.000 menjadikannya Smartphone kelas menengah dengan usaha naik kelas yang agresif. Dan menurut saya, itu lumayan berhasil. Atau mungkin bila spesifikasi disebut di atas kurang mumpuni, bisa beralih ke varian yang lebih kuat sepert Vivo V3 Max. 

Mungkin videonya membantu, mungkin tulisan ini lebih membantu. Either way, mereview Vivo V3 menyenangkan. Membuat saya lebih memahami indahnya 2 dunia, Android & iOS. 

Remember, there’s a specific phone out there that matches your character. Vivo V3 ini layak dicoba dan dipertimbangkan.

 

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *