Virtual Reality: Sudah saatnya kah?

Masuk ke 2016 saya memprediksi beberapa hal yang mungkin akan menjadi tren: 4K, VR & Vlogs. 4K saya yakin akan masih sangat telat di Indonesia tahun 2016. Sudah terlihat banyak display 4K, tapi ingat bahwa 4K itu dibutuhkan juga dari sisi produksi (content creator) atau dari perantaranya (Internet dan kecepatannya)

Vlogs adalah hal yang paling masuk akal untuk populer di tahun ini di Indonesia. Well, saya sudah mulai sejak November dan tampaknya, selama ada konsistensi, atnesi berbanding lurus.

Tapi saya di sini ingin membicarakan mengenai Virtual Reality. Di channel YouTube, saya telah mereview tentang salah satu VR device yang telah dijual secara masif oleh Samsung bernama Samsung Gear VR. Dengan harga kurang lebih Rp. 1.500.000, tampaknya merupakan suatu harga yang pantas dibayar untuk masuk ke “dunia lain”. Wait, pernyataan tadi hanya berguna untuk yang telah memeiliki antara Samsung Note 5, S6, S6 Edge / S6 Edge Plus, atau S7 / S7 Edge. Bila belum, antara kita harus membeli salah satu dari smartphone tadi, atau.. beralih ke VR Device lain seperti Oculus Rift, atau satu dari Sony untuk mendukung PlayStationnya. Sebenarnya masih banyak lainnya, tapi saat ini baru 3 itu yang menarik perhatian saya.

Perlu diketahui, dalam video review di atas saya sedikit melakukan kesalahan dalam berucap bahwa Gear VR memiliki prosesor dan baterai sendiri. Tidak, Isi Gear VR hanyalah berbagai macam sensor. (Accelerator, gyrometer, geomagnetic, proximity). Let’s get that out of the way.

Tidak mudah menghasilkan video review tadi. Karena ternyata, untuk merekam layar VR di smartphone sedikit tidak mungkin. Yang saya lakukan hasilnya adalah streaming layar smartphone ke komputer, lalu merekam layar komputer. Untuk menjadikan gambar yang 3 dimensi dari jarak dekat, hampir sama dengan prinsip kerja 3D TV yang menggunakan kacamata, VR membagi layar menjadi 2, sesuai dengan jumlah mata kita. Sedangkan gerakan yang disesuaikan oleh gerakan kepala kita tadi adalah hasil karya sensor-sensor tadi.

 

Produksinya, untuk games tentu menggunakan full CGI & programming, tapi untuk film dan foto, camera 360 berperan penting di sini. Itu salah satu alasan tidak lama lagi Samsung akan mengeluarkan Gear 360. Tentu GoPro, Nikon, dan banyak produsen lainnya juga sudah siap dengan kamera 360nya.

 

Jadi kalau dari segi display, tampaknya sudah mulai dipasarkan, begitu pula dari segi alat untuk produksinya.Β Bagaimana dengan ukuran file, yang ada hubungannya nanti dengan kecepatan internet? Ternyata video VR pun sudah mengarah ke resolusi 4K, akibatnya akan menjadi lebih besar lagi dari video 4K yang non-VR. Ukuran file hampir sama. Harga device produksi dan display relatif murah.

Tapi, 1 hal yang membedakan mengapa VR akan lebih dulu populer dibanding 4K:

Experiencenya!

 

 

Bagi saya, melihat layar 4K masih sulit dibedakan pengalamannya dengan melihat layar Full HD. Setidaknya untuk mata saya.

Namun, menggunakan VR secara full, puas! Berbeda dengan bermain game di TV, di smartphone atau kata lainnya, secara konvensional. VR memberikan pengalaman baru. Pengalaman yang boleh dibilang breakthrough. Kendala yang mungkin didapat untuk sebagian orang adalah pusing bila terlalu lama, atau device yang cepat panas (setidaknya di S6 Edge Plus saya). Selain itu, sempurna!

 

Itu menurut saya, menurut kamu bagaimana? πŸ™‚

 

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments