Menjamu dan Bertamu di AirBnB: The Ups and The Downs

Menjamu dan Bertamu di AirBnB: The Ups and The Downs
Seperti halnya banyak hal dalam hidup, ada yang manis, ada yang pahit. Begitu juga dengan berbisnis. Well, apalagi, berbisnis! Kalau masih ingat blog post saya bercerita tentang berbisnis dengan istri tempo hari, kali ini kita mau update niy, bagaimana kelanjutannya. Demi nikmatnya membaca blog post ini, mungkin ada baiknya ambil secangkir minuman dingin, karena keadaan akan segera memanassss… *cue emoji api-api*

Kami menjalankan ini berempat bersama kedua sahabat baik kami di Bandung, Reggie dan Sisi, yang telah menjadi co-host yang lebih sabar, lebih rajin, banyak lebihnya dari gue dan istri. Reggie, Sisi, I’m enjoying hosting with you guys, so far ;). 
Glass house pun telah diliput untuk yang kedua kalinya, pertama di d’Sign, NET TV, seperti yang sudah saya posting di sebelumnya, dan kedua di blog cantik milik Miranti dan Nike yang bernama @livinglovingnet . Glass House dikemas dengan cantiknya di blog tersebut. Terima kasih Miranti & Nike. 
Selain di kedua tempat tadi, instagram @unkl347 dan @dendy_darman yang merupakan designer dari Glass House dan @aldilafadila yang pernah menjadi tamu kami, tampak puas dengan kunjungannya. 
Selain itu, kami telah menerima 8 review di AirBnB dan semuanya positif. Tidak sempurna, tapi positif! Hal kecil yang mereka keluhkan adalah usaha lebih yang mereka harus lakukan untuk mencari lokasinya, dan sedikit suara dari Masjid sekitar. Saat ini, kita memiliki 4.5 dari 5 bintang. 
Kebanyakan pengunjung kita ternyata adalah bukan orang Indonesia. Kami banyak sekali menerima Singaporean dan Malaysian. Masalah-masalah kecil seperti listrik yang kehabisan pulsa, lampu yang tiba-tiba putus, atau air panas yang tidak nyala, bersyukur kita lewati tanpa complaint yang berarti. Para tamu memahami masalah yang ada, karena kita ber 4 cukup cepat tanggap menjawab pertanyaan dan keluhan yang ada. Mungkin tidak secepat hotel bintang 5 tentu saja, but we’re getting there 😉
Sambil berjalan, kami pun menambahkan kualitas Glass House, sambi menimba ilmu hosting. Salah satunya adalah menambahkan fasilitas seperti microwave dan hairdryer. Kecil, tapi berguna, bukan?
Terlihat mulus-mulus saja? Gak juga ternyata..
Salah satu keunggulan dari sharing economy ini adalah review. Seperti Uber, Gojek, AirBnB juga menyediakan system review. Kalau Uber dan Gojek memungkinkan kita mereview pengemudinya, AirBnB memungkinkan tamu untuk mereview tempat penginapan dan tuan rumahnya (host), dan sebaliknya! Tempat penginapan direview gunanya untuk tamu-tamu berikutnya. Tamu direview juga berguna untuk host-host berikutnya. Kredibilitas menjadi taruhannya di sini. 
Kami mereview semua tamu yang pernah menginap di tempat kami, 90% lebih kami berikan jempol rekomendasi! Kami tidak ada masalah dengan kebanyakan. Lalu apa yang terjadi dengan 10%nya?
Yes, ada 2 tamu yang kami, “kecolongan”. :/
Kecolongan di sini maksudnya bukan kemalingan, atau ada yang dicuri. Kalau itu yang terjadi, walaupun AirBnB menyediakan asuransi, tapi urusannya tentu akan lebih panjang. 
Kasus pertama, sebut saja oknum S, menginap cukup lama, 5 malam. Saat menerimanya, S masuk ber4, sesuai aturan. Tapi entah kenapa, karena rasa kepercayaan kami yang terlalu besar, terlalu nyaman dengan keadaan, kami tidak memeriksa selama kunjungan mereka. S membawa masuk lagi 1 mobil berisi 4 temannya. Fatal!
  • Mereka menginap berdelapan, yang batasnya adalah 4 orang
  • Mereka memarkir mobil ke 2 di taman, di atas rumput!
  • Parahnya, mereka PARTY! -.- (yang jelas sudah menjadi aturannya untuk menjaga ketenangan)
Bodohnya kami, kami mereview terburu-buru dengan asumsi tidak ada laporan dari satpam yang menjaga tempat kami, jadi kami berasumsi mereka baik-baik saja. We thought silence was golden. Satpam komplek baru bercerita saat kunjungan kami berikutnya. Terlanjur review! Grrr….
Kasus kedua, oknum M, menginap 2 malam. Komunikasi melalui WhatsApp dan telp, sangat baik dan lancar. Berasa akrab, kami pikir ini akan aman-aman saja. Perasaan aman mulai berpaling saat kami menerima kabar dari M sendiri bahwa M dalam perjalanan kembali ke Jakarta, meninggalkan teman-temannya masih menginap di Glass House. *mencurigakan*
Benar adanya, rumah ditinggal dengan keadaan:
  • Berantakan, kotor.
  • Perabot besar seperti kasur, 2 sofa, dipindahkan dari lokasi sebelumnya. 
Terlihat sepele, tapi waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk membersihkan dan memindahkannya kembali, tidak sedikit. Beruntung kami belum review, jadi kami review dengan harapan bisa menjadi peringatan untuk yang akan ditempati dengan oknum tersebut. 
Kotor, berantakan dan BeeHive yang Miring.
Kasur kamar pertama yang dipindahkan ke……
…… Kamar Kedua!
Kedua sofa itu telah pindah. Entah jalan sendiri atau……
KZL!
Well, lesson learnt, really!
Jadi kami memutuskan untuk mengubah sedikit peraturan. 
  • Menaikkan harga orang tambahan yang menginap, dan memastikan untuk tidak dilanggar lagi.
  • Untuk memeriksa profil calon tamu. Kami menghargai foto yang digunakan untuk avatar, sejarah menginap dan review dari tempat penginapan sebelumnya, akan sangat membantu. 
Jadi, calon tamu siapapun yang membaca posting ini, mohon maklum bila kami menolak karena calon tamu baru saja membuat akun AirBnB, tidak mau meluangkan waktu sedikit saja untuk mengupload foto profil dan mengisi profil. Tidak bermaksud sombong atau jahat, cuma bermaksud aman. 
Nyerah? gak dong! These lessons are valuable. Although we don’t want guests like S or M anymore, but we thank them for the lessons! ;)) 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments

  • Wah ternyata lagi bisnis Airbnb ya masbro, jadi mirip mirip bisnis losmen yah, anyway nggak ngira di Indonesia bisa jalan juga model bisnis nya, even konsumen dari tulisan diatas masih dari luar negeri ya.. Waduh ternyata buyer bisa juga berulah yah, dikira seller nya. Ditunggu update berita lanjutan nya ��