[UPDATED] Becoming a Host at AirBnB | Lets do this, @nuchabachri

[UPDATED] Becoming a Host at AirBnB | Lets do this, @nuchabachri
Berbisnis dengan pasangan merupakan tantangan tersendiri. Bukan hanya resiko rugi, tapi rasa takut akan mengganggu hubungan kita kadang menyaingi kemungkinan profit.Skenario 1:
Me: “Dek (yup, that’s what I call her), Pengeluaran yang kemarin, udah di bukuin?”
Her: “Lho?! bukannya kamu??”
Me: “Kan kamu yang pegang duit”
Her: “Tapi kemarin kan kamu yang belanja”
FAIL!Skenario 2:
Me: “Wah bulan ini profit nih”
Her: “Asik, bisa buat beli stroller nih!”
Me: “Yah, langsung abis dong, ga ada yang ditabung nih?”
FAIL!

Dan ratusan skenario lainnya.

Cocok dalam kehidupan pribadi, belum tentu cocok dalam berbisnis. Berantem di kantor, terbawa ke tempat tidur tu ga enak bingits! Semacam menggandakan resiko rugi, tapi juga mungkin menggandakan resiko.. profit (dan kebahagiaan shakinah mawadah waromah tentunya, asik!)

Akhirnya, saya dan Nucha memutuskan untuk mencobanya.
Tulisan ini dibuat setelah 1 bulan memulai bisnis, kami akan menulis lagi setelah 1 tahun.

Nucha and Ario meets AirBnB

Sebagian besar pasti sudah tau AirBnB, tapi untuk yang belum, AirBnB is a community marketplace where guests can book space to spare with those who are looking for a place to stay. Setidaknya, itu kata website AirBnB. AirBnB menyediakan apps untuk menjadi platform untuk yang mau mencari tempat menginap di rumah orang, dan sebaliknya, memberikan kesempatan bagi yang memiliki ruang/property nganggur untuk disewakan.

Pengalaman kami dengan AirBnB belom panjang, tapi cukup menyenangkan. Pertama kali dimulai 2 tahun lalu disaat kami travelling ke Melbourne, Australia. Kami menyewa tempat di dekat stasiun kereta, tengah kota, Little Bourke, 1 kamar bagian dari apartemen dengan host bernama Elvis!

Kami menyewa 1 kamar, dimana 1 kamar lagi disewakan ke pengguna AirBnb juga, sementara Elvis tidur di sofa! Kamarnya relatif kecil, tapi kami bisa menikmati ruang tamu dan dapur serta keramahtamahan Elvis dengan tv 60″nya.

Elvis benar tinggal disitu, menyewakan 1 atau 2 kamarnya, dimana bila itu terjadi, dia akan tidur di sofa. Dengan begini, dia mendapatkan pemasukan tambahan sampai $1000 per bulan. Lumayan banget. Dan untuk kami, mendapatkan tempat tinggal di daerah tengah sangatlah mahal. Kami dulu membayar itu semua cuma sekitar AUD 100. Its a steal!

Puas dengan AirBnb, gue pun nyoba lagi di Singapura di saat gue bareng Ricky Setiawan dan mas Ivan Deva mengikuti seminar Lean StartUp Machine. Menyewa Apartemen dimana kali ini tidak ada hostnya. Still works! We’re pretty happy about it. Price was good for 3 people.

Hey, this could work for us


Mulai lah otak ini berputar. Pengalaman sebagai entrepeneur (ciye), membiasakan gue untuk berusaha melihat keadaan yang memungkinkan untuk berbisnis (baca: kapitalis).

Kami ingin berinvestasi, kami ingin di masa tua nanti, tidak perlu bergantung pada anak, kami ingin mandiri sampai akhir. Well, namanya juga manusia, ada maunya boleh dong. :))
Investasi yang cukup aman, dimana kekurangannya hanya di masalah likuiditasnya, adalah properti.
Jakarta sudah, Bali sedikit masih di luar jangkauan, mata (dan akhirnya hati) berpaling ke Bandung.

Melalui 2 teman kami, Reggie dan Sisi, kami dikenalkan ke Dendi Darman. Dendi adalah salah satu founder dari UNKL347. Yang telat kita ketahui adalah ternyata Om, panggilan kami ke Dendi, mulai melebarkan sayap ke interior design / developer properti. Om menerima pesanan untuk membangun rumah, dengan gaya yang BEDA! Om jago memanfaatkan tempat yang sangat terbatas, dan menjadikannya terlihat spacious dan cantik. Selain itu, karakterisitk penjualannya adalah fully furnished. Lihat proyek2nya disini.

Dikenalkanlah kita ke Rumah Kaca di Awiligar, Bandung bagian utara.. and we fell in love.

Rumah dengan luas tanah 120m2 dengan luas bangunan sekitar 100m2, 2 tingkat ini mencuri hati kami dari awal. Dari dulu Nucha mendambakan rumah kaca, yang sayangnya, bila diaplikasikan di Jakarta, akan terasa cukup panas. Tapi Awiligar adalah daerah yang cukup tinggi, sehingga udara dingin sangat terasa di malam hari, memubazirkan 2 AC yang sudah menjadi paket rumah ini.

Rumah ini kami beli, dengan menaruh Nucha sebagai pemiliknya sekitar 1 bulan setelah pertama kali melihat rumah ini. It happened so fast,… I thought I was drunk. Sampai akhirnya bisa membelikan Nucha rumah kaca mungil ini, was beyond dreams.

So, Lets make CHEESE! (slang for money, if you must ask)

Yang akhirnya kita lakukan dengan rumah ini adalah intinya. Bersama teman baik kami, +Reggie Ronds (RegsRonds) dan @Sisilia_s, kami nawaitu untuk menjadikan ini Revenue Source melalui AirBnB. Gue dan Nucha mendapat tugas marketing sedangkan Reggie dan Sisi yang berdomisili di Bandung mengurus operasionalnya. Kita bagi hasil. Jadi ini sebenarnya lebih dari berbisnis dengan pasangan, tapi juga dengan teman baik! BERANI! :’)

Detail dari rumah ini bisa dilihat di halaman AirBnB ini. Ini kerjaan gue. Mendaftarkan ke AirBnB, menulis deskripsinya, mencari fotonya, dan menentukan harganya. Wait, mungkinkah gue nentuin harga tanpa menteri keuangan? (baca: Istri) Gak mungkin! So scratch that. Nucha juga bertanggung jawab untuk melakukan inventory, kontrol kebersihan (secara dia agak…) dan tentunya, uang.

Tamu, akan disambut oleh Reggie dan Sisi dengan bantuan Kang Asep untuk membersihkan rumah setiap sebelum dan sesudah ada tamu. Jadi jangan khawatir, steril kok InsyaAllah.

AirBnB sendiri bisa diakses melalui web, apps untuk iOS dan Android. Jadi saya mempercayakan login saya ke Nucha, Reggie dan Sisi untuk diakses bersama. Bersama-sama kami mengejar status “Superhost” dimana kami bisa di review, dinilai servicenya, mulai dari kebersihan rumah, fleksibilitas, sampai kecepatan menjawab pesan. Itu indahnya AirBnB. Hotel mana yang complaintnya bisa didengar dan dijawab langsung? 😉

Tentu kami bisa melakukan hal sebaliknya ke tamu kami. Seandainya mereka harus bertanggung jawab atas apapun yang tidak menyenangkan terjadi, seperti melanggar house rules yang sudah kami berikan di laman AirBnB kami, kami akan menaruhnya di review profil mereka. Its only fair. Seperti Gojek, Uber, dan lainnya.

So, how is it so far?

Sejauh ini kami sudah menerima 1 tamu orang Bandung yang menggunakan Rumah Kaca untuk foto pre-wedding, 1 tamu dari Malaysia, dan menunggu 1 booking dari orang Singapura dan 1 dari Jakarta. Semua dalam waktu kurang dari 1 bulan dan didapat melalui AirBnB, yang notabenenya kita tidak kenal sebelumnya (bukan referral dari teman atau relatives)

Kami juga sudah menerima 1 cancellation di H-1. Mengecewakan memang, tapi kita jadikan pelajaran untuk mengubah level fleksibilitasnya ke medium. Yang artinya tidak bisa dibatalkan dibawah H-2, atau duitnya hangus. Lesson learnt!

Pemasukan? ada 3 cara penerimaan uang masuk dari AirBnB:

  1. PayPal: Bagus banget buat yang punya akun PayPal. Sedangkan gue? akun PayPalnya bermasalah, butuh copy tagihan kartu kredit, kelamaan gak gue kasih, eh dia ngambek, di blok deh.
  2. Dikirim lewat POS: bahasa kerennya, WESEL kali ya? Well, pilihan ini cuma berlaku untuk host di US.
  3. Payoneer: Ini seperti kartu kredit yang diberikan mereka, dan balance akan dimasukkan ke kartu kredit itu. Pengambilan tunai bisa! tapi dengan charge sekitar $4 per penarikan. Ya udahlah yaaa.. ambil setiap 6 bulan biar jekpot!
Target kami untuk mendapatkan perbulannya setidaknya mengalahkan inflasi. Dengan masih bisa menggunakannya sendiri sekali-sekali dikala kita berkunjung ke Bandung. Dan mungkin, dalam 3-5 tahun, jual :)) amin.
So….

Penggunaan AirBnB sangat mudah, UI (User Interface) dan UX (User Experience) yang bagus, network yang luas, cepat, mudah. everything is perfect.. so far!

Kami berempat cukup senang, sambil mempelajari satu sama lain, termasuk Reggie dan Sisi, which turns out to be such awesome friends.

Tujuan gue berbagi sih, iya, supaya Rumah Kacanya di sebar luaskan, segera banyak tamu, untuk beli susu bayi dan sekolah anak yang nauzubila mahalnya itu. Tapi bukan hanya itu, kami juga berharap ini bisa jadi bahan pertimbangan untuk memulai bisnis dengan pasangan, (dan teman, mungkin). Proyek ini termasuk yang minim resiko (mudah-mudahan), maka kami memulainya dari situ.

Dan 1 lagi, cobain AirBnB deh. Bukan cuma untuk rumah kaca, tapi juga berguna banget untuk jalan-jalan kemana-mana, sambil menghemat, dan mengalami keramahtamahan host-nya. Bahwa kita masuk rumah AirBnB itu juga masuk ke kehidupan orang lain, si host ini. Melihat foto2 yang ada, buku2 yang dibaca, DVD yang ditonton, dan banyak lagi.

1 tip: Rumah ini atas nama Nucha, walaupun tidak pengaruh, karena tidak ada prenup di antara kami. Women likes this, the belonging, the trust given is different. So this, is my present for you.  … walaupun nyicil. :))

[[[UPDATED]]] Video of the house:

 

 

 

 

 

 

 

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 comments